Selasa, 21 Juli 2020

Hemat Listrik, Hemat Sumber Daya Alam

Mengapa kita harus hemat listrik? Apa hubungan hemat listrik dengan kelestarian lingkungan?

Listrik yang kita pakai saat ini sebagian besar masih berasal dari pembangkit yang menggunakan bahan bakar fosil. Selain menghabiskan sumber daya alam tak terbarukan, pembangkit dengan bahan bakar fosil menghasilkan polutan udara serta gas rumah kaca yang berdampak negatif terhadap perubahan iklim. Dengan menghemat pemakaian listrik, kita tidak hanya menghemat biaya pembayaran listrik, tetapi sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan mengurangi polusi udara, yang akan mengurangi dampak terhadap lingkungan.


Apa saja yang bisa kita lakukan untuk menghemat listrik? Hal pertama adalah mengatur penerangan. Matikan lampu di ruangan yang tidak terpakai. Bersihkan bola lampu yang kotor dan penuh debu. Jika dimungkinkan, saat siang hari bukalah jendela agar sinar matahari masuk dan sebagian lampu dapat dimatikan. Manfaatkan lampu hemat energi terutama untuk lampu-lampu yang harus menyala cukup lama, agar jumlah listrik yang digunakan tidak terlalu besar.

Saat ini, hampir semua peralatan rumah tangga menggunakan perangkat elektronik yang memanfaatkan daya listrik. Terkadang kita lupa mencabut kabel daya perangkat elektronik setiap selesai digunakan, padahal perangkat elektronik yang masih terpasang di stop kontak masih menyedot daya listrik, sehingga menyebabkan pemborosan. Demikian juga dengan perangkat elektronik yang terpasang dalam posisi standby (bukan off), akan memakan daya listrik. Untuk menghemat listrik, jangan lupa mencabut kabel daya perangkat elektronik setiap kali selesai digunakan, sehingga aliran listrik terputus dan penggunaan listrik lebih hemat. Demikian juga saat kita mengisi daya peralatan elektronik – seperti laptop dan ponsel – apabila indikator batere sudah penuh, sebaiknya segera cabut kabel pengisi dayanya. Selain menghemat daya listrik, hal ini juga akan memperpanjang masa pakai peralatan elektronik.

Di kawasan tropis seperti Indonesia, banyak bangunan di kota berhawa panas memasang air conditioner (AC), yang membutuhkan daya listrik cukup tinggi. Namun dengan pengaturan yang cermat, kita masih bisa berhemat listrik saat menggunakan AC. Misalnya ketika ruangan dalam keadaan kosong, pastikan AC tidak menyala. Pada ruangan di mana AC sedang menyala, usahakan pintu dan jendela dalam keadaan tertutup, sehingga pendinginan AC berjalan lebih efektif, dan listrik yang digunakan lebih hemat.

Dengan melakukan beberapa tindakan sederhana, kita bisa melakukan penghematan penggunaan listrik, sekaligus berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan. Dampaknya bukan hanya bisa dirasakan sebagai penghematan hari ini, tetapi juga akan dirasakan oleh anak cucu kita. Mulailah menghemat listrik dari diri kita, mulai saat ini, demi kelestarian lingkungan di masa depan.

Minggu, 19 Juli 2020

Mencegah Kebakaran Akibat Microwave

Microwave merupakan sejenis oven listrik yang saat ini umum ditemukan baik di rumah maupun di kantor. Microwave sangat bermanfaat dalam membantu mempersingkat waktu mempersiapkan makanan agar lebih nikmat saat dimakan. Namun jika tidak digunakan dengan hati-hati, microwave bisa cepat rusak, atau bahkan berpotensi menimbulkan bencana kebakaran.

Seperti yang pernah terjadi di area breakout sebuah gedung perkantoran. Saat sesudah jam makan siang, tiba-tiba tercium bau gosong yang menyengat dari microwave yang sedang dalam keadaan menyala. Karyawan yang sedang berada di sekitar area breakout segera mematikan microwave dan membuka tutup microwave. Terlihat makanan yang sedang dihangatkan sudah dalam keadaan gosong (over heating). 



Setelah kejadian tersebut diselidiki, ternyata pengguna microwave sebelumnya memasang tingkat panas di maksimum, serta pengatur waktu dipasang melebihi waktu yang seharusnya digunakan. Pelanggaran Life Saving Rules lain yang terjadi adalah microwave dioperasikan tanpa pengawasan, sehingga ketika terjadi masalah tidak ada yang segera mengambil tindakan penanganan, menyebabkan makanan yang dipanaskan menjadi gosong.

Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa di atas untuk mencegah berulangnya peristiwa ini adalah sebagai berikut:
  • Sesuaikan pengoperasian microwave dengan jenis makanan yang akan dihangatkan. Biasanya microwave disertai buku panduan yang menyebutkan lama waktu dan tingkat panas yang sebaiknya digunakan untuk berbagai jenis makanan. Ikuti panduan tersebut untuk memastikan makanan yang akan dihangatkan tidak terlalu lama dipanaskan sehingga over heat.
  • Jangan meninggalkan microwave tanpa pengawasan saat beroperasi. Microwave umumnya dioperasikan dalam waktu singkat, sehingga mengawasi microwave bukan hal yang memakan waktu. Menunggui microwave yang sedang beroperasi akan memastikan kita bisa mengambil tindakan segera jika terjadi masalah saat menggunakan microwave.
  • Gunakan hanya wadah dan peralatan yang aman untuk microwave. Umumnya wadah kaca aman digunakan untuk microwave. Beberapa wadah plastik aman untuk digunakan di microwave, asal tidak terlalu lama. Biasanya pada dasar wadah plastik tersebut terdapat tulisan “microwave oven safe”. Jangan gunakan wadah dari logam (termasuk aluminium foil), karena wadah logam sangat mudah menyerap panas, sehingga jika digunakan dalam microwave berpotensi terjadi over heat.
Demikian cara mencegah kebakaran akibat penggunaan microwave yang kurang hati-hati. Peristiwa ini mengingatkan kembali agar kita sadar bahwa Safety is Everyone’s Responsibility. Dengan selalu mengedepankan keselamatan dalam setiap tindakan kita, selain menjaga menjaga keselamatan diri sendiri, kita juga akan membantu menjaga keselamatan orang lain.

Kamis, 09 Juli 2020

Pola Hidup Sehat Saat WFH

Wabah Covid-19 memaksa perusahaan untuk menerapkan pola kerja Work From Home (WFH). Di satu sisi, pola kerja WFH memberi fleksibilitas bagi karyawan untuk mengatur pola kerjanya. Namun di sisi lain, jika tidak berhati-hati, pola kerja WFH juga dapat menimbulkan dampak kesehatan bagi karyawan, yang dapat mengurangi produktivitas karyawan.

Apa saja risiko kesehatan jika seseorang melakukan WFH? Sama halnya seperti di kantor, saat WFH seorang karyawan bisa menghabiskan sebagian besar waktunya duduk di ruangan ber-AC sambil menatap layar komputer. Hal ini membuat badan kurang bergerak, yang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari ambeien, nyeri otot leher, serta masalah di tulang belakang. Fleksibilitas waktu saat WFH dapat menyebabkan karyawan lupa waktu, yang menyebabkan pola makan dan tidurnya terganggu. 



Bagaimana menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh selama WFH? Intinya adalah senantiasa menerapkan pola hidup sehat. Dimulai dari bangun pagi dengan jadwal yang sama seperti saat bekerja di kantor. Selanjutnya atur jadwal bekerja seperti halnya ketika berada di kantor. Atur jadwal istirahat, serta jangan overwork. Pastikan untuk memiliki waktu istirahat yang cukup, serta tidur minimum 6 jam per hari. Dengan istirahat dan tidur yang cukup, Anda akan terhindar dari kelelahan yang amat sangat, dan fisik Anda akan lebih bugar setiap harinya. 

Pastikan pola makan yang sehat dan seimbang. Atur jadwal istirahat dengan durasi cukup, termasuk untuk makan dengan teratur. Makan makanan dengan gizi yang seimbang dalam jumlah cukup. Perbanyak konsumsi serat dari buah, sayuran, dan kacang-kacangan untuk memperlancar pencernaan, sekaligus sebagai sumber vitamin bagi tubuh. Perbanyak minum air putih minimal 2 liter per hari, untuk membantu proses pencernaan makanan. Kurangi makanan yang mengandung lemak jenuh (misalnya daging, krim, santan) untuk menghindari kolesterol, serta hindari minuman yang mengandung alkohol. Mengudap selama WFH memang menyenangkan, namun pilih dengan bijak camilan yang dikonsumsi, agar berat badan tetap terkontrol.

Untuk menghindari risiko kesehatan akibat badan yang kurang bergerak, atur ruangan kerja sedapat mungkin dalam posisi yang ergonomis. Duduklah dengan posisi duduk layaknya bekerja di kantor, menggunakan kursi dan meja. Setiap 1 jam sekali, lakukan peregangan untuk mengurangi ketegangan pada otot. Lakukan olahraga secara teratur, jika memungkinkan 30 menit per hari. Olahraga dapat memperlancar metabolisme tubuh, sehingga organ tubuh dapat berfungsi secara maksimal. Olahraga juga membantu menjaga berat badan agar ideal, untuk mengurangi risiko terkena berbagai penyakit.

Stress juga merupakan hal yang harus dikelola selama WFH. Batas yang tipis antara pekerjaan dan kehidupan pribadi selama WFH merupakah salah satu sumber stress. Sumber lain adalah distraksi yang dapat memecah konsentrasi, serta kebosanan setelah melakukan WFH selama beberapa waktu. Cara yang bisa dilakukan membuat rencana kerja yang baik serta menetapkan skala prioritas, serta mengatur area kerja di rumah agar tidak membosankan. Selain itu, komunikasikan dengan keluarga untuk menyepakati kapan waktu kerja dan kapan waktu untuk keluarga, sehingga tidak menimbulkan gesekan selama WFH.

WFH merupakan solusi untuk mengurangi risiko terpapar virus Covid-19. Jika direncanakan dan dikelola dengan baik, WFH tidak akan menimbulkan dampak kesehatan bagi karyawan, bahkan bisa meningkatkan produktivitas karyawan. Untuk itu perlu kesadaran dari para karyawan yang melakukan WFH untuk selalu menjaga pola hidup sehat, agar kesehatan dan kebugaran karyawan selalu terjaga, dan terhindar dari berbagai penyakit.

Kamis, 25 Juni 2020

Sosrokartono, Si Jenius Dari Timur

Kita mengenal Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Namun sesungguhnya Kartini jauh lebih besar daripada itu. Belakangan terungkap, saat berkorespondensi dengan sahabat-sahabat penanya, Kartini telah menuangkan gagasannya mengenai konsep kebangsaan. Surat-surat Kartini tentang gagasan kebangsaan telah menginspirasi banyak pihak, termasuk para pelajar STOVIA, yang di kemudian hari mendirikan Boedi Oetomo, organisasi modern pertama yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur pergerakan.

Di balik sosok Kartini, sejatinya terdapat sosok penting yang menjadi sumber inspirasi bagi Kartini. Sosok tersebut adalah Raden Mas Pandji Sosrokartono, kakak kandung Kartini. Beliau adalah kakak kesayangan Kartini, yang selalu memotivasi dan mendorong cita-cita mulia Kartini, dan memiliki andil sangat besar dalam membentuk pribadi Kartini. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebut Kartono, nama panggilan beliau, sebagai satu-satunya orang yang menaruh simpati terhadap gagasan-gagasannya.

Kartono lahir di Pelemkerep, Mayong, pada 10 April 1877. Sebagai anak priyayi, Kartono mengenyam pendidikan yang memadai. Kartono merupakan generasi pertama orang Indonesia yang bersekolah di Belanda – tepatnya di Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur Universitas Leiden -- dan lulus jadi sarjana pada tahun 1908.

Lukisan Diri RM Pandji Sosrokartono
koleksi Museum RA Kartini, Jepara

Setelah lulus dari Leiden, Kartono tidak pulang ke Hindia Belanda, ia ingin menimba ilmu dan mencari pengalaman lebih banyak di Eropa. Proses pencarian pengalaman ini didukung oleh kejeniusan Kartono, sekaligus kemampuannya sebagai seorang poliglot, atau menguasai beberapa bahasa asing. Diketahui setidaknya Kartono menguasai 26 bahasa asing, yaitu 9 bahasa asing Timur dan 17 bahasa asing Barat. Karena kejeniusannya, orang-orang Eropa menjuluki dirinya sebagai "Si Jenius dari Timur".

Kartono masih berada di Eropa ketika Perang Dunia I meletus pada 1917. Ia mendaftarkan diri menjadi jurnalis perang di Eropa untuk surat kabar ternama terbitan Amerika Serikat, The New York Herald Tribune. Sebagai wartawan perang, Kartono ditempatkan dalam pasukan Sekutu agar lebih leluasa bergerak, serta diberi pangkat mayor oleh Panglima Perang Amerika Serikat.

Ketika Perang Dunia I berakhir di penghujung tahun 1918, kemampuan poliglotnya membuat Kartono dipercaya menjadi juru bahasa tunggal Blok Sekutu. Pada tahun 1919, Kartono ditunjuk sebagai juru bahasa Liga Bangsa-Bangsa, yang merupakan cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tahun 1921, Kartono merangkap jabatan sebagai atase kebudayaan di Kedutaan Perancis di Den Haag.

Geram melihat arah politik Liga Bangsa-Bangsa yang tak netral, Kartono memutuskan pulang ke tanah air. Namun kehidupannya setelah Kembali ke Hindia Belanda tak seindah ketika Kartono tinggal di Eropa. Kartono sempat tak punya pekerjaan. Beberapa kali Kartono ditawari pekerjaan oleh pemerintah Hindia Belanda, di antaranya adalah sebagai direktur museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional). Namun tawaran-tawaran ini ditolak Kartono, karena ia tidak ingin meminta belas kasihan pemerintah kolonial.

Kartono kemudian menemui Ki Hajar Dewantara, yang kemudian menawarinya menjadi Direktur Perguruan Taman Siswa di Bandung. Ki Hajar juga mengijinkan Kartono membangun perpustakaan di Gedung Taman Siswa. Namun Kartono hanya beberapa tahun mengabdi di Taman Siswa. Tahun 1927, tanpa penyebab yang jelas, Kartono mengundurkan diri dari Taman Siswa.

Replika Suasana Rumah Dar Oes-Salam
di Museum RA Kartini, Jepara

Tiga tahun setelah keluar dari Taman Siswa, Kartono mendirikan rumah penyembuhan di rumahnya di Jl. Pungkur No. 7, Bandung, dengan nama Dar-Oes-Salam, yang berarti “Tempat yang Damai”. Beliau dikenal sebagai “Dokter Air Putih” karena selalu memberi pengobatan dengan air dan sarana aksara “Alif” (huruf pertama dalam aksara Arab). Sejak belia, Kartono memang sudah dikenal memiliki kemampuan supranatural, dan pandai dalam bidang pengobatan. Saat tinggal di Jenewa tahun 1920, ia berhasil menyembuhkan anak seorang kenalannya hanya dengan menempelkan tangan di dahi pasien. Sebagai seorang ahli kebatinan dan spiritual yang sangat dihormati di Bandung, rumah Kartono tak pernah sepi pengunjung,

Hiasan Dinding Bertulisan "Alif"
Koleksi Museum RA Kartini, Jepara

Selama di Bandung, Kartono lebih dikenal sebagai “Ndoro Sosro”. Kartono menyebut dirinya sendiri sebagai “Mandor Kloengsoe” (klungsu = biji asam). Beliau memang mengibaratkan dirinya seperti biji pohon asem: kecil, namun menjadi sebab tumbuhnya pohon asem yang besar dan rimbun. Beberapa panggilan dan julukan lain yang disematkan kepada beliau adalah “Joko Pring” (bujangan seperti pohon bambu), wonderdokter, juragan dokter cai pengeran, dokter alif, Oom Sos, atau Eyang Sosro.

Ndoro Sosro a.k.a. Mandor Kloengsoe,
Foto Koleksi Museum RA Kartini Jepara

Di masa awal pendudukan Jepang tahun 1942, kesehatan Sosrokartono mengalami kemunduran, hingga mengalami kelumpuhan. Kondisi kesehatannya tidak berangsur membaik, dan pada 8 Februari 1952 beliau wafat di Bandung, setelah selama 2,5 tahun berjuang sekuat tenaga dalam kelumpuhan dan kepayahan. Pemerintah memfasilitasi untuk menerbangkan jenazah beliau ke Semarang, dan kemudian dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus. 

Sabtu, 09 Mei 2020

Kartini dan STOVIA

Bangunan bertuliskan School Tot Opleiding Van Indische Artsen ini sekarang kita kenal sebagai Museum Kebangkitan Nasional, dengan koleksi utama berbagai memorabilia pendirian Boedi Oetomo sebagai organisasi pergerakan modern pertama, serta benda-benda yang terkait dengan pendidikan kedokteran tempo doeloe di STOVIA. Namun di salah satu ruangan museum, kita akan menemukan diorama berukuran besar yang memperlihatkan Raden Adjeng Kartini, tokoh wanita asal Jepara, yang tengah mengajar di Sekolah Kepandaian Putri Jepara. Apa hubungan Kartini dengan STOVIA?



Kita mengenal Kartini sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa Kartini ternyata nyaris menjadi siswa di STOVIA. Ketika J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Kerajinan, dan Agama datang ke Jepara pada tahun 1900 untuk mendiskusikan pendirian sekolah bagi putri bangsawan, Abendanon terkesan dengan kunjungan ke Jepara, sehingga mengundang Bupati Sosroningrat (ayah Kartini) dan keluarga untuk berkunjung ke Batavia. Perjalanan ke Batavia memberi secercah harapan, karena Abendanon bersedia membantu Kartini untuk  masuk STOVIA. Kartini menilai pilihan tersebut cukup realistis, karena STOVIA berada di Batavia, dan tidak memerlukan biaya. Namun harapannya pupus karena ayahnya tidak setuju, dengan alasan saat itu murid STOVIA seluruhnya laki-laki.



Sosok Kartini mungkin lebih dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan. Namun sejatinya perjuangan Kartini lebih luas daripada itu. Kartini telah mengungkapkan gagasannya tentang kebangsaan dalam surat-suratnya. Jauh sebelum berdirinya Boedi Oetomo, Kartini telah berkorespondensi dengan berbagai pihak mengenai gagasan kebangsaan, termasuk dengan orang-orang penting di Eropa, sahabat penanya, dan bahkan para pelajar STOVIA. Surat-surat Kartini membuat banyak para pelajar STOVIA terbakar semangat nasionalismenya.

Tahun 1903, dalam sebuah pertemuan saat berkunjung ke Batavia, Kartini telah menggaungkan semangat pergerakan nasional. Saat itulah kata-kata “Jong Java” pertama kali keluar dari mulut Kartini. Buah pikiran Kartini ini menginspirasi banyak pihak, termasuk dr. Cipto Mangunkusumo dan para siswa STOVIA lainnya. Sedemikian menginspirasinya Kartini bagi para siswa STOVIA, mereka menganggap Kartini sebagai tempat berkeluh kesah, tempat bertukar pikiran, dan penyemangat bagi anak-anak muda. Untuk itulah mereka memanggil Kartini sebagai “Ayunda”, yang bermakna “kakak perempuan”.

Semangat yang diinspirasi Kartini inilah yang kemudian memicu berdirinya Boedi Oetomo, yang selanjutnya menggerakkan pergerakan-pergerakan nasional lainnya hingga menuju Proklamasi Kemerdekaan. Karena inspirasinya ini, banyak pihak yang menganggap Kartini memiliki tempat khusus sebagai Ibu Nasionalisme. Namun mengapa konsep nasionalisme Kartini tidak pernah kita kenal dengan konkrit? Mungkin karena gagasan nasionalisme yang diusung Kartini masih sangat konseptual, dan tercerai berai dalam surat-suratnya, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam dunia pergerakan.

Minggu, 04 Juni 2017

Look Who’s Talking: Para Perempuan Inspiratif di Hari Kartini 2017

Pada tanggal 27 April 2017 bertempat di Auditorium Lantai M Gedung Utama PT Pertamina (Persero), diselenggarakan acara peringatan Hari Kartini dengan mengadakan talkshow yang mengangkat tema Look Who’s Talking. Acara diawali dengan arahan dari Yeni Andayani, Direktur Gas PT Pertamina (Persero). Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa produktivitas pekerja perempuan dapat menaikkan Gross Domestic Product negara secara signifikan, sehingga peran perempuan sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini didukung sifat alami perempuan yang memiliki perhatian terhadap pengentasan kemiskinan. Namun demikian, untuk dapat berkarya dalam profesinya, perempuan memiliki tantangan yang besar khususnya dalam hal work-life balance.



Masih menurut Ibu Yeni, Pertamina telah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pekerja perempuan untuk berkarya. Bahkan perusahaan telah mengupayakan workplace yang lebih nyaman bagi pekerja perempuan, di antaranya dengan membuat nursery yang memungkinkan pekerja perempuan membawa anak saat bekerja. Dengan besarnya kesempatan yang sudah diberikan perusahaan, tidak ada yang bisa menghentikan para pekerja perempuan untuk berkarya. Hanya diri pekerja perempuan sendiri yang dapat menghentikan kita untuk maju dan terus berkarya. Untuk itulah acara ini mengangkat hashtag #unstoppableme.

Dalam acara inti peringatan Hari Kartini Tahun 2017 berupa Talkshow bertema Looks Who’s Talking yang dipandu oleh Alvin Adam, dihadirkan 2 (dua) orang narasumber yaitu para perempuan yang dianggap sebagai sumber inspirasi bagi perempuan-perempuan lain. Narasumber pertama dalam talkshow adalah Mahmudah, Awak Mobil Tangki (AMT) PT Pertamina (Persero) yang bertugas di TBBM Rewulu, Yogyakarta. Sebelum berprofesi sebagai AMT, Ibu Mahmudah pernah menjalani profesi sebagai pengemudi bis pariwisata antar kota selama 16  tahun. Sebagai AMT, setiap harinya Ibu Mahmudah harus standby di filling shed mulai jam 3 pagi, dan menempuh perjalanan mengantar BBM sepanjang tidak kurang 200 km. Bagi ibu tiga anak ini, pekerjaan berat tersebut ia jalani dengan bangga dan bahagia, demi anak-anaknya. Budaya kinerja tinggi di Pertamina memberikan inspirasi bagi Ibu Mahmudah untuk senantiasa bersemangat bekerja untuk perusahaan dan memberikan yang terbaik.

Narasumber kedua adalah Lenggogeni Faruk, suami dari Halilintar Anofial Asmid, sekaligus ibu dari keluarga yang dikenal sebagai “Kesebelasan Gen Halilintar”. Mbak Geni, demikian panggilan akrab beliau, berbagi tips bagaimana mengelola keluarga dengan 11 orang anak tanpa asisten rumah tangga.  Mbak Geni dan Pak Halilintar menerapkan sistem di mana setiap anak memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, dan mereka melaksanakan tanggung jawab tersebut bukan karena diperintah orang tua, tetapi semata-mata untuk kepentingan bersama. Setiap anak juga di-encourage untuk memiliki kebebasan dalam berbicara dan berkreasi sesuai dengan karakter, passion dan hobinya masing-masing anak, sehingga tiap anak mendapatkan treatment sesuai dengan kebutuhan. Mbak Geni tidak menampik bahwa antara satu anak dengan anak yang lain pernah terjadi perselisihan, tetapi selalu dicarikan solusi agar setiap pihak merasa dihargai.

Mbak Geni juga berbagi kisah bagaimana beliau dan Pak Halilintar mengajarkan kepada anak-anak agar memiliki pertalian erat dengan Tuhan. Bagi mereka, Tuhan bukan hanya disembah, tetapi Tuhan turut campur dalam setiap aspek kehidupan. Mereka menanamkan rasa berketuhanan kepada anak-anak sejak dini, dengan menekankan bahwa hal apapun yang terjadi, selalu ada maksud dan tujuan Tuhan di dalamnya. Dengan anak-anak mengenal Tuhan, maka mereka akan memiliki rasa sayang dan cinta kepada Tuhan, yang kemudian menimbulkan rasa sayang dan cinta kepada orang tua mereka. Dengan timbulnya rasa sayang dan cinta pada orang tua, maka anak-anak akan dengan sukarela membantu orang tua tanpa diminta atau merasa dipaksa.

Ketika ditanya bagaimana cara Mbak Geni dan Pak Halilintar berbagi kasih sayang dan memperlakukan setiap anak dengan adil, Mbak Geni menjawab bahwa mereka tidak membagi kasih sayang, melainkan mencurahkan kasih sayang dengan sebesar-besarnya. Dalam hal memperlakukan anak dengan adil, bagi Mbak Geni “adil” tidak berarti “sama rata sama rasa”, melainkan bagaimana anak diperlakukan sesuai dengan usia, keperluan dan porsinya masing-masing. Satu hal yang ditekankan oleh Mbak Geni adalah anak senantiasa meng-capture segala sesuatu yang dilakukan orang tua, maka orang tua diharapkan senantiasa memberi teladan yang baik bagi anak. Mbak Geni juga berbagi tips bagi para pekerja wanita yang hadir pada saat talkshow bahwa walaupun sebagai wanita karir kebersamaan dengan anak tidak seintensif mereka yang menjadi ibu rumah tangga fulltime, alangkah baiknya jika waktu yang dihabiskan bersama anak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sehingga menjadi lebih berarti bagi orang tua dan anak.

Sabtu, 20 Februari 2016

Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia



Judul Buku : Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
Jenis : Buku Umum/Edukasi
Penulis : Arini Tathagati
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, November 2015
ISBN : 9786020323459
Kolasi : viii + 118 halaman

Terkadang calon mahasiswa dan orang tua menghadapi kebingungan dalam memilih bidang studi apa yang sebaiknya diambil saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Seringkali calon mahasiswa dan orang tua mendapatkan bayangan atau informasi yang kurang tepat mengenai jurusan yang dipilih. Kasus lainnya, banyak yang terbuai mimpi memilih jurusan bergengsi, padahal minat dan kemampuannya tidak sesuai dengan jurusan tersebut. Akibatnya seringkali mahasiswa mengalami hambatan pada saat belajar di perguruan tinggi, bahkan dapat berujung pada mahasiswa tersebut drop-out.

Buku ini berisi gambaran mengenai program studi Teknik Kimia, mulai dari lingkup program studinya, mata kuliah yang dipelajari, serta profesi apa saja yang bisa dijalani oleh para lulusannya. Khususnya bagi para calon mahasiswa, buku ini juga memberikan berbagai kiat-kiat menempuh pendidikan di program studi Teknik Kimia. Setelah membaca buku ini, baik para calon mahasiswa maupun orang tua akan lebih memahami mengenai program studi Teknik Kimia dan profesi insinyur teknik kimia, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih program studi yang akan ditempuh di perguruan tinggi.

Buku ini diawali dengan pengenalan Program Studi Teknik Kimia, bagaimana sejarah munculnya bidang keilmuan Teknik Kimia, dan peluang profesi apa saja yang bisa dijalani lulusan Program Stui Teknik Kimia. Bab II menjelaskan mengenai materi apa saja yang dipelajari di Program Studi Teknik Kimia, baik materi yang disampaikan di kelas, praktikum di laboratorium, kerja praktek, perancangan pabrik, hingga penelitian. Pada Bab III, disampaikan mengenai minat dan kemampuan apa saja yang sebaiknya dimiliki jika ingin berhasil menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Kimia. Pada Bab IV, terdapat kiat-kiat untuk berhasil dalam menjalani pendidikan di Program Studi Teknik Kimia, termasuk kiat-kiat untuk hal-hal non teknis di luar kegiatan pendidikan. Sedangkan pada Bab V diberikan daftar universitas di Indonesia yang memiliki program studi S1 Teknik Kimia beserta status akreditasinya di tahun 2015.