Tampilkan postingan dengan label ibu-ibu doyan nulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibu-ibu doyan nulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2014

Mari Menyusun SOP

Standard Operating Procedure (SOP) merupakan perangkat organisasi yang berfungsi memandu setiap individu dan/atau unit kerja untuk beroperasi secara konsisten, untuk mencapai tujuan organisasi. Selain sebagai panduan, SOP juga bermanfaat sebagai perangkat melakukan telusur balik (trace back) apabila terjadi keluhan atau hasil audit menunjukan indikasi adanya kesalahan, kelalaian, atau kecurangan. SOP juga merupakan salah satu referensi yang digunakan dalam menyelesaikan konflik atau perselisihan.

Pertanyaan yang sering timbul dalam proses penyusunan SOP adalah harus mulai dari mana, seperti apa bentuknya, dan apa saja yang harus dituangkan dalam SOP. Buku “Mudah Menyusun SOP” akan membantu Anda memberikan gambaran seperti apa struktur SOP dalam organisasi, jenis-jenis dokumen yang termasuk dalam SOP, cara menyusun dokumen SOP, serta cara untuk memastikan agar prosedur yang diatur dalam SOP berjalan dengan efektif dan efisien. Walaupun model yang dijelaskan dalam buku ini adalah model yang umumnya digunakan dalam korporasi besar, namun Sistem Tata Kerja yang diulas dapat juga diterapkan dalam organisasi kecil atau bisnis perorangan.

Beli di penebar-swadaya.net 

Buku ini diawali dengan pengenalan SOP dan Sistem Tata Kerja, struktur dokumen Sistem Tata Kerja, dan siapa saja yang menggunakan Sistem Tata Kerja. Bab II menjelaskan mengenai daur hidup Sistem Tata Kerja serta proses penyusunan dan pengembangan Sistem Tata Kerja. Bab III menjelaskan mengenai organisasi dan cara menyusun proses bisnis yang berlangsung dalam organisasi. Bab IV sampai dengan Bab VII menjelaskan lebih detail mengenai dokumen yang digunakan dalam Sistem Tata Kerja, seperti fungsi dari masing-masing dokumen dan cara penyusunannya. Bab VIII menjelaskan mengenai audit kepatuhan sebagai mekanisme untuk memastikan agar Sistem Tata Kerja dilaksanakan secara konsisten dalam organisasi. Pada Bab IX dijelaskan mengenai tata cara pengendalian dokumen Sistem Tata Kerja dan rekaman yang menjadi bukti implementasi Sistem Tata Kerja secara konsisten. Di bagian akhir buku, terdapat contoh-contoh dokumen STK dalam organisasi. Buku ini juga dilengkapi dengan CD yang berisi detail diagram alir dan format prosedur yang tercantum di dalam buku.

Data Buku :
Judul: Mudah Menyusun SOP
Penulis : Arini T. Soemohadiwidjojo
Penerbit : Penebar Plus
Terbit : Jakarta, November 2014
ISBN : 9786021279175
Harga : Rp 54.000,-

Rabu, 14 Mei 2014

Jangan Sembarang Bikin Prosedur!

Istilah Standard Operating Procedure (SOP) mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. SOP, atau Sistem Tata Kerja, merupakan perangkat organisasi yang berfungsi memandu setiap individu dan/atau unit kerja untuk beroperasi secara konsisten, untuk mencapai tujuan organisasi. Sistem Tata Kerja juga bermanfaat sebagai perangkat untuk melakukan telusur balik (trace back) apabila terjadi keluhan atau hasil audit menunjukan indikasi adanya kesalahan, kelalaian, atau kecurangan, serta bisa dijadikan sebagai referensi dalam menyelesaikan konflik atau perselisihan.


Seringkali kita mengalami kesulitan ketika harus menyusun SOP, seperti harus mulai dari mana, seperti apa bentuknya, dan langkah apa saja yang harus dituangkan dalam SOP. Buku “Step By Step Membuat SOP” ini akan membantu Anda memberikan gambaran seperti apa struktur SOP/Sistem Tata Kerja, jenis-jenis dokumen dalam Sistem Tata Kerja, cara menyusun dokumen Sistem Tata Kerja, serta cara untuk memastikan agar prosedur yang diatur dalam Sistem Tata Kerja tersebut berjalan dengan efektif dan efisien. Walaupun model yang dijelaskan dalam buku ini adalah model yang umumnya digunakan dalam korporasi besar, namun Sistem Tata Kerja yang diulas dapat juga diterapkan dalam organisasi kecil atau bisnis perorangan.

Buku ini diawali dengan pengenalan Sistem Tata Kerja, siapa saja yang menggunakan Sistem Tata Kerja, struktur dokumen Sistem Tata Kerja, proses penyusunan dan pengembangan Sistem Tata Kerja. Bab II menjelaskan mengenai organisasi dan cara mengidentifikasi dan menyusun proses bisnis yang berlangsung dalam organisasi. Bab III sampai dengan Bab VI menjelaskan lebih detail mengenai dokumen yang digunakan dalam Sistem Tata Kerja, seperti fungsi dari masing-masing dokumen dan cara penyusunannya. Pada Bab VII, diberikan contoh proses penyusunan Sistem Tata Kerja dalam bisnis perorangan sederhana. Pada Bab VIII, dijelaskan mengenai audit kepatuhan sebagai mekanisme untuk memastikan agar Sistem Tata Kerja dilaksanakan secara konsisten dalam organisasi. Sedangkan pada Bab IX dijelaskan mengenai tata cara pengendalian dokumen Sistem Tata Kerja dan rekaman yang menjadi bukti implementasi Sistem Tata Kerja secara konsisten.
 

Data Buku :
Judul: Step By Step Membuat SOP
Penulis : Arini Tathagati
Penerbit : Efata Publishing
Terbit : Yogyakarta, Maret 2014
ISBN : 9786027760745
Harga : Rp 37.500,-

Senin, 27 Mei 2013

Rumah Si Pitung, Warisan Sejarah dan Budaya di Pesisir Jakarta

Rumah Si Pitung merupakan obyek wisata sejarah dan budaya yang terletak di Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara, kurang lebih di belakang STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) Marunda. Bangunan ini merupakan salah satu peninggalan budaya masyarakat pesisir di abad ke-19, dan berdasarkan peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 9 tahun 1999 telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya.

Walaupun disebut Rumah Si Pitung, namun bangunan ini bukan rumah kelahiran atau milik keluarga Pitung, jawara Betawi yang terkenal akan perjuangannya melawan ketidakadilan penguasa Hindia Belanda. Rumah panggung bergaya arsitektur Bugis yang berada di lahan seluas 700 meter persegi tersebut sebenarnya milik Haji Syafiuddin, pengusaha “sero”. Menurut kisah yang dituturkan secara turun temurun oleh masyarakat setempat, rumah ini pernah dirampok oleh Pitung.

Untuk mencapai Rumah Si Pitung, bisa menggunakan angkot atau kendaraan pribadi. Jika menggunakan angkot, turun di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jl. Marunda Makmur, Cilincing, kemudian telusuri ruas jalan di samping kampus menuju ke arah pantai. Kurang lebih 300 meter dari jalan raya, terdapat lapangan yang bisa digunakan untuk parkir kendaraan pribadi. Dari lapangan tersebut, lanjutkan perjalanan melewati jembatan beton yang melintas di atas sungai Blencong. Kurang lebih 300 meter dari jembatan sungai Blencong, terdapat sebuah rumah panggung dicat warna merah delima dan diberi pagar pengaman. Itulah Rumah Si Pitung.



Dari sumber yang mengatakan bahwa rumah tersebut dirampok pada tahun 1883, maka diperkirakan rumah panggung tersebut didirikan pada awal abad ke-19. Saat didekati, terlihat rumah sepanjang 15 meter dengan lebar 15 meter ini ditopang oleh 40 buah tiang setinggi 2 meter, yang diletakkan di atas landasan beton setinggi 50 cm. Peninggian ini dilakukan untuk mencegah air pasang atau banjir rob menggenangi rumah tersebut, mengingat rumah ini hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai.


Untuk memasuki Rumah Si Pitung, pengunjung harus menaiki tangga di bagian depan rumah. Selama berada di bagian dalam rumah pengunjung harus berhati-hati, karena bagian dalam rumah ini agak pendek, hanya setinggi 2 meter. Saat ini rumah tersebut sudah dipasangi listrik, sehingga tidak menimbulkan kesan angker. Di dalam rumah terdapat perabot khas gaya Betawi, seperti kursi tamu, tempat tidur, meja rias, dan peralatan dapur. Sebagian perabot kuno ini bukan merupakan benda asli dari Rumah Si Pitung, melainkan sumbangan dari berbagai pihak.


Note : dimuat di tabloid Jakarta Baru edisi 29 April 2013

Sabtu, 25 Mei 2013

Menyebar Virus Travel Writing Bersama IIDN

Travel Writing. Istilah ini mungkin terdengar baru, namun sebenarnya sudah dilakukan sejak masa silam. Genre ini menitikberatkan tulisannya tentang sebuah tempat atau daerah dan perjalanan menuju dan selama berada di tempat tersebut. Gaya penulisan travel writing pun bermacam-macam, mulai dari yang naratif hingga deskriptif, dari tulisan jurnalistik hingga karya sastra, dan bahkan bisa ditulis secara ringan hingga sangat serius. Saat ini travel writing biasanya diasosiasikan dengan perjalanan wisata, dengan tujuan memberikan informasi mengenai destinasi wisata tersebut kepada pembacanya.

Travel writing ternyata tidak semata-mata berbentuk trip guide, yang menuliskan tentang deskripsi tempat wisata, data-data teknis, dan cara menuju ke sana. Bentuk travel writing sangat banyak, namun yang dianggap sebagai jenis travel writing yang banyak dimuat di media adalah travel feature. Travel feature umumnya berbentuk artikel, dan diulas dari sudut pandang orang pertama, atau penulis sebagai pelaku perjalanan. Ciri khas dari artikel feature adalah sentuhan personal tentang aktivitas dan perasaan penulis selama melakukan perjalanan.

Sejak tahun 2005 saya membuat artikel travel writing, dengan menggabungkan ketiga hobi saya yaitu travelling, foto-foto, sama menulis. Namun saat itu artikel saya masih bercampur baur antara trip guide dan travel feature. Baru setelah saya mengikuti kursus travel writing di tahun 2009, tulisan-tulisan travelling saya menjadi semakin bervariasi. Artikel-artikel ini masih terbatas diterbitkan di majalah internal korporat, karena saya belum percaya diri untuk mengirimkan artikel-artikel saya ke media-media yang cakupannya lebih luas.

Saat saya bergabung dengan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pada awal tahun 2011, di pertengahan tahun 2011 ada pengumuman kebutuhan penulis untuk proyek pembuatan Kamus Wisata Indonesia. Tertarik dengan proyek tersebut karena sangat berkaitan dengan travel writing, saya pun bergabung. Niat semula hanya menulis beberapa artikel tentang DKI Jakarta, namun karena masih banyak tulisan-tulisan yang dibutuhkan, pada akhirnya saya menulis tidak kurang dari 95 artikel untuk mensupport proyek tersebut. Pengalaman mengerjakan proyek Kamus Wisata Indonesia bersama Komunitas IIDN ini membuat pengalaman saya dalam travel writing menjadi lebih kaya, selain saya juga mendapat kesempatan berkenalan dengan ibu-ibu yang canggih dalam menulis.

Februari 2012, saya ikut kopi darat Komunitas IIDN wilayah Jabodetabek. Di sinilah untuk pertama kalinya saya bertemu sosok Indari Mastuti, pemilik Agensi Naskah Indscript Creative sekaligus pendiri Komunitas IIDN yang selama ini hanya saya temui di dunia maya. Sayang sekali, dalam acara kopi darat tersebut, saya belum berhasil bertemu Lygia Pecanduhujan, markom dari IIDN yang selama ini tulisan-tulisannya selalu berkibar di Komunitas IIDN. Usai acara, setiap peserta diminta untuk mengumpulkan proposal outline buku. Semula saya tidak terpikir untuk mengumpulkan karena sedang menunggu ide, namun desakan dari panitia yang terus menerus menelfon agar saya mengumpulkan proposal outline buku pun membuat saya akhirnya mengumpulkan proposal buku tersebut.

Sempat bingung, buku seperti apa yang mau saya buat berikutnya? Apakah buku ketrampilan? Saat itu ide saya sedang buntu, dan saya tahu sebuah buku ketrampilan membutuhkan usaha yang tidak sedikit, karena tidak hanya membuat tulisan, tetapi kita juga harus menyiapkan contoh barang dan fotografinya. Akhirnya setelah merenung beberapa lama, saya mendapat ide untuk menulis tentang Travel Writing. Ide ini muncul dari kenyataan di mana hingga saat ini sudah banyak guide book dan buku kisah perjalanan yang diterbitkan, namun belum banyak yang menulis mengenai cara menulis travel feature dan foto perjalanan secara komprehensif.

Gayung bersambut, kurang lebih 2 bulan kemudian, sebuah penerbit major sedang membutuhkan banyak naskah perjalanan, dan mbak Indari Mastuti membuat pengumuman proposal mana saja yang diterima penerbit major tersebut. Rupanya proposal buku Travel Writing saya ikut disetujui! Dalam waktu 1 bulan, saya ngebut menyelesaikan buku tersebut, dan menyerahkannya kembali pada Indscript Creative untuk ditindaklanjuti.

Sambil menunggu buku Travel Writing diterbitkan, saya kembali aktif memantau informasi di Komunitas IIDN. Kalau ada audisi antologi, iseng-iseng saya mencoba ikut, dan lebih sering tidak terpilih. Tapi tidak masalah, karena setelah saya pikirkan lagi, yang penting adalah menambah jam terbang, kalau tulisannya terpilih, itu bonus. Salah satu “bonus” yang akhirnya saya dapatkan adalah masuk sebagai kontributor buku Hot Chocolate for Broken Heart yang digawangi oleh markom IIDN Lygia Pecanduhujan. Selain informasi audisi antologi, saya juga menunggu informasi mengenai alamat-alamat media, khususnya media yang menerima artikel Travel Writing. Alhamdulillah, salah satu artikel perjalanan saya akhirnya diterbitkan di Republika edisi 10 Juli 2012.

Setelah 10 bulan menunggu, di akhir Februari 2013 saat yang dinanti-nanti tiba : Travel Writing 101 diterbitkan oleh Elex Media Komputindo! Saya pun menyebarkan berita gembira ini di Komunitas IIDN. Sebagai sarana untuk memperkenalkan buku ini, saya bekerjasama dengan Duta Buku IIDN untuk menyelenggarakan kuis. Melihat animo para peserta kuis, terlihat bahwa banyak ibu-ibu khususnya anggota Komunitas IIDN yang berminat untuk menulis karya travel writing, dan buku ini bisa menjadi jawaban atas keingintahuan mengenai travel writing tersebut.



Ya, walaupun selama ini travel writing lebih identik dengan para backpacker atau mereka yang bepergian ke tempat yang eksotik. Namun sejatinya, tidak ada batasan bahwa travel writing harus ditulis oleh kalangan tertentu, atau mengenai destinasi dengan kriteria tertentu. Bukan tidak mungkin para wanita yang tergabung dalam komunitas IIDN dapat memberikan sentuhan tersendiri pada artikel-artikel travel writing, khususnya melihat pengalaman suatu perjalanan dari sudut pandang wanita. Dan saya berharap, para anggota komunitas IIDN dapat turut menyebarkan virus Travel Writing ini, untuk bersama-sama menggugah para wanita dalam melakukan perjalanannya dan berbagi pengalaman perjalanan tersebut melalui travel writing.


Note: posting dimuat di http://iidn.satukan.com/2013/05/menyebar-virus-travel-writing-bersama-iidn/