Jumat, 31 Oktober 2014

Rahasia Menjadi Penulis dan Membuat Buku

Hari ini, banyak orang yang ingin menjadi penulis, tapi tidak tahu harus mulai dari mana, menulis apa, atau harus seperti apa tulisannya. Sebenarnya tipsnya sangat sederhana: mulailah menulis. Saat Anda tak tahu mau menulis apa, mulailah menulis sesuatu yang Anda sukai atau Anda kuasai. Jika Anda menyukai tentang parenting, tulislah tentang parenting. Jika Anda menguasai masalah marketing, tulislah tentang marketing. Jangan risaukan masalah kualitas tulisan dan EYD. Semakin sering Anda menulis, Anda akan semakin terlatih untuk membuat tulisan yang berkualitas dan mengikuti kaidah-kaidah EYD.

Saya mulai berlatih menulis dengan menulis buku harian. Tentu saja, isi tulisan tersebut sangat personal bagi saya, jadi seandainya tulisannya jelek, kalimatnya tidak “bunyi”, atau melanggar EYD,  tidak ada yang akan mengomentari, karena tulisan-tulisan itu memang hanya untuk konsumsi saya sendiri. Namun semakin sering saya menulis, ternyata kemampuan saya untuk memilih kata dan menyusun kalimat yang “bunyi” menjadi lebih terasah. Kemampuan ini terasa sangat membantu ketika saya memberanikan diri untuk menulis artikel ilmiah, sebuah tulisan dengan topik yang serius untuk dibaca publik. Kata demi kata mengalir dengan lebih mudah, dan hasilnya adalah sebuah artikel yang mudah dipahami namun tidak meninggalkan esensi isinya.

Semakin sering kita menulis, biasanya timbul cita-cita baru: membuat buku. Hampir semua orang yang aktif menulis ingin menulis buku. Namun seringkali proses penulisan buku terbentur oleh berbagai kendala, mulai dari kesulitan menemukan ide buku, proses penulisan buku itu sendiri, hingga bagaimana buku tersebut akan diterbitkan. Terkadang ide topik buku sudah muncul, tapi bingung harus mulai menulis dari mana. Ketika sudah mulai menulis buku, terkadang penulis terbentur writers’ block, yang membuat  penulis seperti mati gaya dan tidak punya ide apa yang harus diulas untuk meneruskan tulisannya. Ketika naskah buku sudah selesai, persoalan lain timbul: ke mana naskah buku ini harus diberikan agar diterbitkan dan dapat dibaca oleh khalayak?
Berikut ini adalah beberapa tips menulis buku agar penulisan buku berjalan dengan lancar:
  • Tentukan topik yang ingin ditulis, dan fokus serta konsisten menulis topik tersebut. Sama seperti ketika Anda mengawali menjadi penulis, pilihlah topik yang Anda sukai dan kuasai betul. Memilih topik yang disukai dan dikuasai merupakan hal yang bisa memotivasi Anda untuk terus menulis dan menulis hingga buku tersebut rampung. 
  • Tetapkan siapa target pembacanya. Ini akan menentukan gaya bahasa yang Anda gunakan dalam menulis buku.
  • Tetapkan target jumlah halaman buku. Kemudian tetapkan target menulis harian secara realistis (misalnya 5 halaman A4 per hari), untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menulis buku tersebut.
  • Sebelum menulis, buat kerangka/outline sebagai panduan Anda. Outline akan membuat proses penulisan buku Anda lebih terarah. Outline juga bermanfaat ketika Anda mengalami writers’ block, karena akan membantu menyegarkan ingatan Anda tentang desain awal dari buku yang sedang Anda tulis.
  • Dalam proses menulis, carilah data yang valid. Gunakan referensi sebanyak-banyaknya, jika perlu lakukan wawancara dengan banyak narasumber. Sebuah buku dengan data yang obsolete atau data yang salah tentunya tidak akan menarik untuk dibaca dalam jangka panjang. Untuk buku bergenre non fiksi, keabsahan data merupakan sebuah keharusan. Bahkan buku bergenre fiksi seperti novel atau teenlit akan menjadi lebih menarik jika setting yang digunakan mendekati kondisi yang sebenarnya.
  • Setelah selesai menulis, lakukan self-editing, untuk memastikan tulisan Anda “bunyi”, enak dibaca, alurnya mengalir, dan sesuai EYD.

Setelah buku selesai ditulis, tahap berikutnya adalah menerbitkan buku tersebut. Banyak cara agar buku tersebut bisa dipublikasikan kepada khalayak. Cara yang konvensional adalah dengan menawarkan naskah tersebut kepada penerbit. Tentunya Anda harus mencari penerbit yang sesuai dengan genre tulisan Anda, serta memiliki reputasi yang terpercaya. Tidak jarang terjadi kasus penulis yang naskahnya dibawa lari oleh penerbit yang memiliki itikad kurang baik, atau ketika buku sudah terbit, pembayaran naskah atau royaltinya tidak pernah dilakukan. Untuk tahu mana penerbit yang terpercaya, Anda bisa berdiskusi dengan penulis yang berpengalaman menerbitkan buku.

Pada umumnya penulis ingin bukunya dapat diterbitkan oleh penerbit besar yang bonafit, syukur-syukur bisa menembus penerbit papan atas seperti Gramedia Group. Namun di penerbit besar, proposal buku Anda akan bersaing dengan ratusan, bahkan ribuan proposal buku lainnya. Saat ini ada cara agar konsep buku Anda bisa diterbitkan lebih cepat, yaitu melalui self-publishing. Pada umumnya penerbit yang melayani jasa self-publishing bersedia menerbitkan naskah Anda, bagaimana pun kualitas naskahnya, selama naskah tersebut bermanfaat, tidak mengandung penghinaan, SARA, atau hal-hal lain yang melanggar norma dan etika pada umumnya. Salah satu penerbit yang memiliki layanan self-publishing adalah Rasibook, yang menyediakan berbagai layanan paket penerbitan.



Sudah mencoba ke penerbit besar, sudah mencoba self-publishing, tapi buku Anda masih belum beruntung? Tetaplah berikhtiar. Sama seperti setiap orang yang memiliki rejekinya masing-masing, setiap tulisan pun memiliki “rejeki”nya sendiri. Apakah tulisan kita ditakdirkan untuk menjadi buku yang laku keras dan bermanfaat, kita tidak pernah tahu jika tidak pernah melakukan upaya untuk menerbitkannya. Beberapa penulis ternama telah membuktikan bahwa mereka perlu mencoba hingga ribuan kali, sebelum buku mereka diterbitkan dan menjadi best seller sepanjang masa. Jadi jangan pernah menyerah, tetap semangat untuk menulis dan mencoba menerbitkan buku, mungkin suatu saat Anda akan ditunjukkan jalan yang terbaik untuk menulis buku dan menerbitkannya, serta memberikan manfaat bagi banyak pihak.



Updated: tulisan ini dan beberapa tulisan peserta lomba lainnya sudah dibukukan dalam buku "Jejak Langkah Penulis" terbitan Rasibook. Dapatkan segera di www.rasibook.com!

Rabu, 14 Mei 2014

Jangan Sembarang Bikin Prosedur!

Istilah Standard Operating Procedure (SOP) mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. SOP, atau Sistem Tata Kerja, merupakan perangkat organisasi yang berfungsi memandu setiap individu dan/atau unit kerja untuk beroperasi secara konsisten, untuk mencapai tujuan organisasi. Sistem Tata Kerja juga bermanfaat sebagai perangkat untuk melakukan telusur balik (trace back) apabila terjadi keluhan atau hasil audit menunjukan indikasi adanya kesalahan, kelalaian, atau kecurangan, serta bisa dijadikan sebagai referensi dalam menyelesaikan konflik atau perselisihan.


Seringkali kita mengalami kesulitan ketika harus menyusun SOP, seperti harus mulai dari mana, seperti apa bentuknya, dan langkah apa saja yang harus dituangkan dalam SOP. Buku “Step By Step Membuat SOP” ini akan membantu Anda memberikan gambaran seperti apa struktur SOP/Sistem Tata Kerja, jenis-jenis dokumen dalam Sistem Tata Kerja, cara menyusun dokumen Sistem Tata Kerja, serta cara untuk memastikan agar prosedur yang diatur dalam Sistem Tata Kerja tersebut berjalan dengan efektif dan efisien. Walaupun model yang dijelaskan dalam buku ini adalah model yang umumnya digunakan dalam korporasi besar, namun Sistem Tata Kerja yang diulas dapat juga diterapkan dalam organisasi kecil atau bisnis perorangan.

Buku ini diawali dengan pengenalan Sistem Tata Kerja, siapa saja yang menggunakan Sistem Tata Kerja, struktur dokumen Sistem Tata Kerja, proses penyusunan dan pengembangan Sistem Tata Kerja. Bab II menjelaskan mengenai organisasi dan cara mengidentifikasi dan menyusun proses bisnis yang berlangsung dalam organisasi. Bab III sampai dengan Bab VI menjelaskan lebih detail mengenai dokumen yang digunakan dalam Sistem Tata Kerja, seperti fungsi dari masing-masing dokumen dan cara penyusunannya. Pada Bab VII, diberikan contoh proses penyusunan Sistem Tata Kerja dalam bisnis perorangan sederhana. Pada Bab VIII, dijelaskan mengenai audit kepatuhan sebagai mekanisme untuk memastikan agar Sistem Tata Kerja dilaksanakan secara konsisten dalam organisasi. Sedangkan pada Bab IX dijelaskan mengenai tata cara pengendalian dokumen Sistem Tata Kerja dan rekaman yang menjadi bukti implementasi Sistem Tata Kerja secara konsisten.
 

Data Buku :
Judul: Step By Step Membuat SOP
Penulis : Arini Tathagati
Penerbit : Efata Publishing
Terbit : Yogyakarta, Maret 2014
ISBN : 9786027760745
Harga : Rp 37.500,-

Kamis, 24 Oktober 2013

Pidato Bung Karno yang Melintas Jaman

Siapa yang tidak kenal Ir. Soekarno? Sang Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia ini tak hanya menjadi tokoh bangsa Indonesia, tetapi juga merupakan tokoh dunia internasional. Sepak terjangnya dalam membawa Indonesia menuju kemerdekaan serta mengupayakan perdamaian dunia telah membuat Bung Karno dikenang sebagai sosok yang luar biasa.

Bung Karno juga dikenal dengan pidato-pidatonya yang dahsyat, baik dari cara beliau membawakan maupun isi dari pidato tersebut. Buku “Bung Karno Sang Singa Podium” karya Rhien Soemohadiwidjojo ini berisi kumpulan pidato-pidato pilihan yang pernah disampaikan Bung Karno yang disampaikan sejak jaman perjuangan merebut kemerdekaan hingga di akhir masa pemerintahan beliau. Buku ini diawali dengan ringkasan biografi Bung Karno sejak awal kelahiran beliau, masa muda beliau, awal beliau mulai bergabung dalam pergerakan nasional, masa-masa beliau di pembuangan, peran beliau pada masa pendudukan Jepang, proklamasi kemerdekaan, masa mempertahankan kemerdekaan, hingga akhir masa pemerintahan beliau dan akhir hayat beliau. Tak lupa disertakan juga berbagai kisah tambahan yang terkait Bung Karno, termasuk tulisan-tulisan beliau, istri-istri beliau dan berbagai karya seni yang diprakarsai oleh Bung Karno, untuk mengenal sosok Bung Karno lebih dekat.

Ruh dari buku ini ada pada bab kedua, yang mengulas secara komprehensif pidato-pidato Bung Karno, mulai dari kapan dan bagaimana Bung Karno belajar berpidato, pergerakan tema pidato Bung Karno dari masa ke masa, serta rahasia pidato Bung Karno dan “ritual” yang biasa dilakukan Bung Karno sebelum berpidato. Salah satu hal yang diulas dalam bab ini adalah proses penyusunan naskah pidato kenegaraan yang dilakukan oleh Bung Karno. Sebagai orator, Bung Karno terbiasa melakukan pidato secara spontan, namun untuk pidato kenegaraan yang dibacakan setiap tanggal 17 Agustus, Bung Karno membutuhkan waktu khusus untuk menyusun pidato kenegaraan tersebut. Sebagai hasilnya adalah rangkaian pidato kenegaraan yang berkesinambungan dari tahun ke tahun, dengan topik nasionalisme dan kesejahteraan bangsa yang masih relevan hingga saat ini. Dalam bab ini dikisahkan pula reaksi pendengar terhadap pidato Bung Karno, serta orang-orang yang berperan penting dalam pidato Bung Karno, termasuk ajudan dan para penerjemah.

Bab ketiga hingga bab ketujuh berisi kumpulan pidato Bung Karno, yang dibagi menjadi 5 bagian, yaitu pidato pra-Proklamasi, pidato pada masa Proklamasi dan Perang Kemerdekaan (1945-1949), pidato pada masa 1950-1958, pidato pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), dan pidato pasca peristiwa G 30 S tahun 1965. Pembagian ini dimaksudkan agar pembaca dapat melihat benang merah dan pergerakan tema pidato Bung Karno dari masa ke masa dengan lebih jelas. Sedangkan Bab kedelapan atau bab penutup berisi kumpulan kutipan (quotes) Bung Karno baik yang bersumber dari pidato beliau maupun berasal dari tulisan beliau.

Data Buku :
Judul: Bung Karno – Sang Singa Podium
Penulis : Rhien Soemohadiwidjojo
Penerbit : Second Hope
Terbit : Yogyakarta, Oktober 2013
ISBN : 9786027760622
Harga : Rp 78.000,-


 Note: posting orisinil dimuat di http://iidn.org

Senin, 27 Mei 2013

Rumah Si Pitung, Warisan Sejarah dan Budaya di Pesisir Jakarta

Rumah Si Pitung merupakan obyek wisata sejarah dan budaya yang terletak di Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara, kurang lebih di belakang STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) Marunda. Bangunan ini merupakan salah satu peninggalan budaya masyarakat pesisir di abad ke-19, dan berdasarkan peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 9 tahun 1999 telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya.

Walaupun disebut Rumah Si Pitung, namun bangunan ini bukan rumah kelahiran atau milik keluarga Pitung, jawara Betawi yang terkenal akan perjuangannya melawan ketidakadilan penguasa Hindia Belanda. Rumah panggung bergaya arsitektur Bugis yang berada di lahan seluas 700 meter persegi tersebut sebenarnya milik Haji Syafiuddin, pengusaha “sero”. Menurut kisah yang dituturkan secara turun temurun oleh masyarakat setempat, rumah ini pernah dirampok oleh Pitung.

Untuk mencapai Rumah Si Pitung, bisa menggunakan angkot atau kendaraan pribadi. Jika menggunakan angkot, turun di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jl. Marunda Makmur, Cilincing, kemudian telusuri ruas jalan di samping kampus menuju ke arah pantai. Kurang lebih 300 meter dari jalan raya, terdapat lapangan yang bisa digunakan untuk parkir kendaraan pribadi. Dari lapangan tersebut, lanjutkan perjalanan melewati jembatan beton yang melintas di atas sungai Blencong. Kurang lebih 300 meter dari jembatan sungai Blencong, terdapat sebuah rumah panggung dicat warna merah delima dan diberi pagar pengaman. Itulah Rumah Si Pitung.



Dari sumber yang mengatakan bahwa rumah tersebut dirampok pada tahun 1883, maka diperkirakan rumah panggung tersebut didirikan pada awal abad ke-19. Saat didekati, terlihat rumah sepanjang 15 meter dengan lebar 15 meter ini ditopang oleh 40 buah tiang setinggi 2 meter, yang diletakkan di atas landasan beton setinggi 50 cm. Peninggian ini dilakukan untuk mencegah air pasang atau banjir rob menggenangi rumah tersebut, mengingat rumah ini hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai.


Untuk memasuki Rumah Si Pitung, pengunjung harus menaiki tangga di bagian depan rumah. Selama berada di bagian dalam rumah pengunjung harus berhati-hati, karena bagian dalam rumah ini agak pendek, hanya setinggi 2 meter. Saat ini rumah tersebut sudah dipasangi listrik, sehingga tidak menimbulkan kesan angker. Di dalam rumah terdapat perabot khas gaya Betawi, seperti kursi tamu, tempat tidur, meja rias, dan peralatan dapur. Sebagian perabot kuno ini bukan merupakan benda asli dari Rumah Si Pitung, melainkan sumbangan dari berbagai pihak.


Note : dimuat di tabloid Jakarta Baru edisi 29 April 2013

Sabtu, 25 Mei 2013

Menyebar Virus Travel Writing Bersama IIDN

Travel Writing. Istilah ini mungkin terdengar baru, namun sebenarnya sudah dilakukan sejak masa silam. Genre ini menitikberatkan tulisannya tentang sebuah tempat atau daerah dan perjalanan menuju dan selama berada di tempat tersebut. Gaya penulisan travel writing pun bermacam-macam, mulai dari yang naratif hingga deskriptif, dari tulisan jurnalistik hingga karya sastra, dan bahkan bisa ditulis secara ringan hingga sangat serius. Saat ini travel writing biasanya diasosiasikan dengan perjalanan wisata, dengan tujuan memberikan informasi mengenai destinasi wisata tersebut kepada pembacanya.

Travel writing ternyata tidak semata-mata berbentuk trip guide, yang menuliskan tentang deskripsi tempat wisata, data-data teknis, dan cara menuju ke sana. Bentuk travel writing sangat banyak, namun yang dianggap sebagai jenis travel writing yang banyak dimuat di media adalah travel feature. Travel feature umumnya berbentuk artikel, dan diulas dari sudut pandang orang pertama, atau penulis sebagai pelaku perjalanan. Ciri khas dari artikel feature adalah sentuhan personal tentang aktivitas dan perasaan penulis selama melakukan perjalanan.

Sejak tahun 2005 saya membuat artikel travel writing, dengan menggabungkan ketiga hobi saya yaitu travelling, foto-foto, sama menulis. Namun saat itu artikel saya masih bercampur baur antara trip guide dan travel feature. Baru setelah saya mengikuti kursus travel writing di tahun 2009, tulisan-tulisan travelling saya menjadi semakin bervariasi. Artikel-artikel ini masih terbatas diterbitkan di majalah internal korporat, karena saya belum percaya diri untuk mengirimkan artikel-artikel saya ke media-media yang cakupannya lebih luas.

Saat saya bergabung dengan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pada awal tahun 2011, di pertengahan tahun 2011 ada pengumuman kebutuhan penulis untuk proyek pembuatan Kamus Wisata Indonesia. Tertarik dengan proyek tersebut karena sangat berkaitan dengan travel writing, saya pun bergabung. Niat semula hanya menulis beberapa artikel tentang DKI Jakarta, namun karena masih banyak tulisan-tulisan yang dibutuhkan, pada akhirnya saya menulis tidak kurang dari 95 artikel untuk mensupport proyek tersebut. Pengalaman mengerjakan proyek Kamus Wisata Indonesia bersama Komunitas IIDN ini membuat pengalaman saya dalam travel writing menjadi lebih kaya, selain saya juga mendapat kesempatan berkenalan dengan ibu-ibu yang canggih dalam menulis.

Februari 2012, saya ikut kopi darat Komunitas IIDN wilayah Jabodetabek. Di sinilah untuk pertama kalinya saya bertemu sosok Indari Mastuti, pemilik Agensi Naskah Indscript Creative sekaligus pendiri Komunitas IIDN yang selama ini hanya saya temui di dunia maya. Sayang sekali, dalam acara kopi darat tersebut, saya belum berhasil bertemu Lygia Pecanduhujan, markom dari IIDN yang selama ini tulisan-tulisannya selalu berkibar di Komunitas IIDN. Usai acara, setiap peserta diminta untuk mengumpulkan proposal outline buku. Semula saya tidak terpikir untuk mengumpulkan karena sedang menunggu ide, namun desakan dari panitia yang terus menerus menelfon agar saya mengumpulkan proposal outline buku pun membuat saya akhirnya mengumpulkan proposal buku tersebut.

Sempat bingung, buku seperti apa yang mau saya buat berikutnya? Apakah buku ketrampilan? Saat itu ide saya sedang buntu, dan saya tahu sebuah buku ketrampilan membutuhkan usaha yang tidak sedikit, karena tidak hanya membuat tulisan, tetapi kita juga harus menyiapkan contoh barang dan fotografinya. Akhirnya setelah merenung beberapa lama, saya mendapat ide untuk menulis tentang Travel Writing. Ide ini muncul dari kenyataan di mana hingga saat ini sudah banyak guide book dan buku kisah perjalanan yang diterbitkan, namun belum banyak yang menulis mengenai cara menulis travel feature dan foto perjalanan secara komprehensif.

Gayung bersambut, kurang lebih 2 bulan kemudian, sebuah penerbit major sedang membutuhkan banyak naskah perjalanan, dan mbak Indari Mastuti membuat pengumuman proposal mana saja yang diterima penerbit major tersebut. Rupanya proposal buku Travel Writing saya ikut disetujui! Dalam waktu 1 bulan, saya ngebut menyelesaikan buku tersebut, dan menyerahkannya kembali pada Indscript Creative untuk ditindaklanjuti.

Sambil menunggu buku Travel Writing diterbitkan, saya kembali aktif memantau informasi di Komunitas IIDN. Kalau ada audisi antologi, iseng-iseng saya mencoba ikut, dan lebih sering tidak terpilih. Tapi tidak masalah, karena setelah saya pikirkan lagi, yang penting adalah menambah jam terbang, kalau tulisannya terpilih, itu bonus. Salah satu “bonus” yang akhirnya saya dapatkan adalah masuk sebagai kontributor buku Hot Chocolate for Broken Heart yang digawangi oleh markom IIDN Lygia Pecanduhujan. Selain informasi audisi antologi, saya juga menunggu informasi mengenai alamat-alamat media, khususnya media yang menerima artikel Travel Writing. Alhamdulillah, salah satu artikel perjalanan saya akhirnya diterbitkan di Republika edisi 10 Juli 2012.

Setelah 10 bulan menunggu, di akhir Februari 2013 saat yang dinanti-nanti tiba : Travel Writing 101 diterbitkan oleh Elex Media Komputindo! Saya pun menyebarkan berita gembira ini di Komunitas IIDN. Sebagai sarana untuk memperkenalkan buku ini, saya bekerjasama dengan Duta Buku IIDN untuk menyelenggarakan kuis. Melihat animo para peserta kuis, terlihat bahwa banyak ibu-ibu khususnya anggota Komunitas IIDN yang berminat untuk menulis karya travel writing, dan buku ini bisa menjadi jawaban atas keingintahuan mengenai travel writing tersebut.



Ya, walaupun selama ini travel writing lebih identik dengan para backpacker atau mereka yang bepergian ke tempat yang eksotik. Namun sejatinya, tidak ada batasan bahwa travel writing harus ditulis oleh kalangan tertentu, atau mengenai destinasi dengan kriteria tertentu. Bukan tidak mungkin para wanita yang tergabung dalam komunitas IIDN dapat memberikan sentuhan tersendiri pada artikel-artikel travel writing, khususnya melihat pengalaman suatu perjalanan dari sudut pandang wanita. Dan saya berharap, para anggota komunitas IIDN dapat turut menyebarkan virus Travel Writing ini, untuk bersama-sama menggugah para wanita dalam melakukan perjalanannya dan berbagi pengalaman perjalanan tersebut melalui travel writing.


Note: posting dimuat di http://iidn.satukan.com/2013/05/menyebar-virus-travel-writing-bersama-iidn/